Bait-Bait Cinta

Bait-Bait Cinta Oleh Geidurrahman El-Mishry

Boleh jadi ini salah satu fiksi-Islam-pesantren post-tradisonalisme. Tokoh utamanya adalah Jaka Suganda. Dia adalah sosok yang dinamis, cerdas, dan menjadi aktivis di sekolahnya. Ia bertekad meneruskan belajarnya di universitas Al-Azhar Mesir, meski keadaan ekonominya tidak memungkinkan. Sementara Haji Ismail adalah seorang kaya yang derma. Singkat cerita, dialah yang akhirnya mengantarkan cita-cita Jaka untuk bisa melanjutkan pendidikannya ke negeri Musa itu.

Drama `simpatik’ Haji Ismail ini berkat permintaan putrinya, Fatimah Diyah Pitaloka, yang memang sudah lama memendam kekaguman sejak duduk pertama kali di bangku sekolah. Hal itu bisa terjadi, sebab Jaka dan Fatimah adalah siswa dalam sekolah yang sama. Fatimah duduk di kelas 1, ketika Jaka duduk di kelas 3 MAN dan menjadi ketua OSIS.

Bait-Bait CintaSaat-saat sebelum keberangkatannya ke Mesir, Haji Ismail sempat dibuat berdecak kagum saat menyaksikan kecerdasan Jaka, terutama dalam hal sejarah lokal, seperti tentang tanah galunggung, sebuah daerah di wilayah yang mereka huni, yaitu daerah Cipakat, Sukarema, Cipasung. Selain itu pandangan-pandangan Jaka turut juga membawa simpati Haji Ismail, sebab Jaka dinilai sangat dewasa, meski ia baru lulus MAN. Hal ini membuat Haji Ismail tambah yakin dengan keinginannya untuk membantu membiayai kuliah Jaka di Mesir sampai selesai, dengan harapan kelak di daerahnya ada orang alim yang bisa mengajarkan ilmu agamanya.

Babak berikutnya, diam-diam Fatimah punya ‘rasa’ dengan Jaka. Bukti itu ditunjukkan dengan sepucuk surat Fatimah yang ia selipkan ke koper Jaka sesaat sebelum keberangkatannya ke Mesir. Malam itu, saat perpisahan mereka, sekaligus dilakukan hajatan selamatan Jaka di rumah Fatimah. Jaka sendiri hanya menganggap perhatian Fatimah tak lebih perhatian seorang adik kepada kakaknya, atau perhatian seorang saudara kepada saudaranya yang lain. Hal ini dipicu oleh perasaan Jaka, yang memang tak pantas bila mencintainya, sebab mencintai Fatimah adalah suatu angan-angan yang mungkin berlebihan. Akan tetapi dengan berjalannya waktu sedikit demi sedikit Jaka mulai PD karena posisinya sebagai mahasiswa ternama di Mesir. Akan tetapi drama asmara yang baru mulai tumbuh ini seakan berhenti, ketika Jaka mengenal seorang gadis asal Palestina yang tinggal di Mesir, bernama Amira.

Cerita perkenalan Jaka dengan Fatimah, lantaran persahabatan Jaka dengan Muhammad Iyad (sepupu Amira), teman Jaka satu Club di bola Basket. Awal cerita perkenalan inipun lantaran ada pertandingan bola Basket antar wafidin (mahasiswa asing di Mesir), yakni antara mahasiswa Indonesia dengan Mahasiswa Palestina. Perkenalan antara Amira dan Jaka disebabkan Muhammad Iyad, yang sering menceritakan keahlian Jaka dalam bermain bola basket, termasuk juga cerita kepribadiannya yang santun, dan wawasannya yang cukup luas.

Pertemanan Jaka dengan Amira pun berlanjut dengan cerita Asmara. Hal ini tak mengherankan sebab antar keduanya sama-sama mempunyai kelebihan, baik dalam hal fisik maupun yang lainnya. Sejak itulah Jaka kurang memperhatikan Fatimah, anak Haji Ismail, orang yang telah berjasa kepadanya.

Amira adalah mahasiswa Universitas Kairo, yang terpaksa tinggal bersama orang tua Muhammad Iyad (yang juga masih pamannya sendiri) di Mesir. Kedua orang tua Amira meninggal akibat kekejaman tentara Israel. Cerita lembar demi lembar mengenai kekejian tentara Israel menindas bangsa Palestina diceritakan Amira kepada Jaka. Kisah itu diceritakan Amira dengan baik berkat pengalamannya saat masih kecil ataupun dari cerita yang ia peroleh dari penuturan ibunya.

Cerita dan sejarah bangsa Palestina-Yahudi, dan juga pertikaiannya di sepanjang sejarah dibebarkan dalam novel ini, dalam cerita Jaka sedang mengikuti mata kuliah Milal Wa Nihal (aliran dan sekte) yang diulas oleh dosen pengampunya. Prof. DR. Sa’addudin. Dalam kisah seorang murid yang sedang duduk menyimak pelajaran Milal wa Nihal inilah banyak disuguhkan pengetahuan mengenai Yahudi-Nasrani, Israel- Palestina, Arab-Eropa dan lain sebagainya dalam banyak pembahasan.

Novel ini beralur maju-mundur, bab demi bab dikisahkan dengan setting yang berbeda, kadang kehidupan Jaka dan keberadaannya di kampung halamannya, Cipakat, Tasikmalaya, kadang juga dengan setting yang khas Mesir, dengan berbagai pernak-pernik rutinitas mahasiswa yang sedang belajar di Mesir, termasuk juga apa itu Temus, dan bagaimana organisasi kemahasiswaan Masisir (Mahasiswa Indonesia-Mesir) itu berlangsung.

Dalam setting lokalnya, di Cipakat (sebuah kampung di Tasikmalaya), terjadilah babak kisah perjodohan antara Haji Ismail dengan Sukarta, orang tua Jaka. Keduanya setuju. Sebab Haji Ismail diam-diam ternyata berharap pada Jaka menjadi menantunya. Ia ingin mewujudkan cita- citanya mendirikan Pesantren di Cipakat. Maklum Haji Ismail adalah orang yang kaya raya, maka untuk membangun Pesantren tak begitu masalah.

Dalam babak perjodohan ini, Hajjah Ibu Murtamah, istri Haji Ismail, sempat tidak setuju dengan drama perjodohan Fatimah-Jaka, sebab ia sudah menganggap Jaka selama ini adalah anaknya sendiri. Karenanya tak mungkin menikahkan anak dengan anak. Sebelum akhirnya perasaan bersalah Ibu Murtamah itu mampu ditepis oleh Haji Ismail. Hingga bulat tekadlah mereka menjodohkan Fatimah-Jaka. Keluarga ini terlebih dulu mencarikan alternatif calon (yang hendak disandingkan dengan putrinya), kepada Kiyai Ghofur, Pengasuh Pesantren di daerahnya. Calon demi calon didatangkan, akan tetapi belum menemukan kecocokan, hingga akhirnya tercetus satu rencana lain, yakni rencana keluarga Haji Ismail yang ingin naik haji, termasuk juga Fatimah, serta akad nikah yang akan dilakukan di Mekah, saat mereka berhaji itu. Seperti gayung bersambut, Jaka sendiri kebetulan mendapatkan Temus (sebagai tenaga musim Haji) dari KBRI.

Drama perjodohan itu membuat hati Jaka bingung alang kepalang. Sebab dirinya sekarang bukanlah Jaka yang dulu, yang kuper, polos dan lugu. Tetapi Jaka sekarang sudah menjadi sosok yang PD, dan disisinya ada seorang gadis asal Palestina yang cantik. Karenanya kelebihan- kelebihan Fatimah menjadi seperti terabaikan begitu saja. Akan tetapi ada satu hal penting, yang membuat tidur Jaka menjadi terusik, yaitu jasa Haji Ismail. Karenanya ia tak bisa menolak begitu saja drama perjodohan dirinya dengan Fatimah itu.

Akan tetapi sebelum drama perjodohan itu terlaksana, terjadilah kisah yang tak diduga. Satu keluarga Babah Miqdad, orang tua Muhammad Iyad, Paman Amira yang selama ini ia jadikan sebagai tempat bersandar, pengganti orang tuanya, semua meninggal dunia, termasuk Muhamamd Iyad, akibat bom yang diledakkan teroris di kawasan Sharmu al Syekh (Mesir utara dekat perbatasan dengan Israel) saat sekeluarga tengah asyik berlibur. Maka menjadilah Amira hidup sebatangkara. Kenyataan inilah yang membuat Jaka terpaksa memilih Amira sebagai pendamping hidupnya.

Kisah selanjutnya, tak mengherankan, jika Jaka akhirnya membatalkan Temusnya (juga perjodohannya dengan Fatimah), dan lebih memilih bersama Amira pergi ke Palestina.

Keterangan Rinci:

Judul: Bait-Bait Cinta
Penulis : Geidurrahman El-Mishry
Tebal : 350 hal
Penerbit : Grafindo Khazanah Ilmu, Jakarta
Terbit : Februari 2008

Pranala:

%d blogger menyukai ini: